Selasa, 15 Juni 2021

Kultur Sekolah

 

Abdul Halim 

Tema: Kultur Sekolah 

Assalamualaikum wr.wb, kali ini saya akan membahas tentang kultur Sekolah, langsung saja ke penjelasannya ya. 

Kultur sekolah adalah pola nilai, keyakinan dan tradisi yang terbentuk melalui sejarah sekolah (Deal dan Peterson, 1990). Stolp dan Smith (1994) menyatakan bahwa budaya sekolah adalah pola makna yang dipancarkan secara historis yang mencakup norma, keyakinan, seremonial, ritual, tradisi dan mitos dalam derajat yang bervariasi oleh warga sekolah. Kultur sekolah adalah budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran-pemikiran bersama ( shared ideas ), asumsi-asumsi ( asumsi ), nilai-nilai ( values ), dan keyakinan ( belief ) yang dapat identitas ( identity).) sekolah yang menjadi standar perilaku yang diharapkan. (Zamroni, 2009). Lembaga sekolah sebagai pihak internal harus membangun budaya sekolah berdasarkan pemikiran-pemikiran lembaga yang ditunjang oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah, perilaku guru dan siswa serta pegawai dalam memberikan layanan kepada para siswa, orang tua, dan lingkungannya sebagai pihak eksternal. Kultur positif sekolah seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mengarahkan seluruh warga sekolah menuju perubahan-perubahan positif. Pada umumnya setiap sekolah memiliki budaya sendiri namun sekolah yang berhasil adalah sekolah yang memiliki budaya positif yang sejalan dengan visi dan misi sekolah.

 Fungsi Budaya Sekolah

Adapun fungsi budaya sekolah adalah sebagai berikut:

     Dalam upaya meningkatkan mutu sekolah untuk terus menerus melakukan perbaikan, peningkatan kualitas sekolah. Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena memiliki empat fungsi, yaitu:

1. Sebagai alat untuk membangun identitas (jati diri).

2. Kultur sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.

3. Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya persaingan dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.

4. Kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.

Mitra Sekolah Membangun Budaya Sekolah

          Dalam membangun kultur, sekolah tidak dapat berdiri sendiri tetapi memerlukan kerjasama dengan mitra kerja yaitu orang tua siswa, komite sekolah dan para pemangku kepentingan lainnya.

          Sekolah harus menjadi organisasi pembelajar yang melakukan pembelajaran untuk mencapai apa yang diinginkan, yakni dengan mengajak semua warga sekolah mengembangkan sistem dan pola berpikir yang lebih baik. Selain itu sekolah harus melakukan evaluasi diri agar menjadi dasar perencanaan untuk \membangun budaya yang tepat sesuai dengan kondisi nyata.

Pasti setiap warga sekolah akan berupaya membangun ruang lingkup sekolah agar sekolah menjadi indah dan bagus. 

Membangun Kultur Sekolah

1. Penetapan Visi, Misi, Tujuan dan Strategi Sekolah

          Sebagai lembaga pendidikan sekolah perlu merumuskan visi, misi, tujuan dan strategi. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19 tahun 2007 tentang standar Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, visi adalah cita-cita pengelolaan bersama warga sekolah dan pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang yang mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada warga sekolah dan pihak yang berkepentingan untuk mencapainya. Misi sekolah adalah segala sesuatu yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Tujuan menggambarkan kualitas yang ingin dicapai dalam jangka waktu menengah. Strategi adalah cara-cara yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

          Visi, misi, tujuan dan strategi sekolah perlu dijadikan sebagai dorongan untuk mendorong warga sekolah agar untuk melakukan setiap dalam rangka mencapai tujuan sekolah. 

2 . Membangun dan Memelihara Fisik Sekolah

          Kultur sekolah mencerminkan budaya dan perilaku dan moral sekolah sebagai sebuah lembaga. Terdapat tiga komponen yang dapat menggambarkan hal tersebut (Zamroni, 2009):

Artefak dan Simbol-simbol, bagaimana bangunan sekolah dihias, didekorasi dan dirawat,

Nilai-nilai ( values) , bagaimana warga sekolah berperilaku dan bertindak saat melakukan pekerjaan, berinteraksi dan berkomunikasi.

Asumsi-asumsi, adalah keyakinan termasuk agama yang secara tidak disadari dan alami yang dimiliki oleh setiap warga sekolah.

          Sekolah seyogyanya kontra agar komponen-komponen tersebut tidak menjadi produktif karena:

Menggunakan artifak dan simbol yang sudah rusak dan usang sehingga tidak memberikan kesan positif dan perhatian pada proses pembelajaran dan pendidikan untuk siswa.

Tidak atau kurang menerapkan nilai-nilai dalam setiap kegiatan sekolah, tidak membangun tanggung jawab dan toleransi dalam setiap kegiatan sekolah.

Memiliki asumsi, pendapat atau keyakinan yang berdampak negatif seperti:

         a. Sebuah. Pandangan yang memberikan label bahwa banyak siswa yang bodoh, tidak belajar, malas.

          b. Pendapat yang menyatakan bahwa orang tua siswa tidak peduli dengan pendidikan putra-putrinya.

          c. Asumsi yang menyatakan bahwa orang tua siswa sekarang tidak peduli tentang pendidikan.

Kultur sekolah tidak hanya dapat direfleksikan oleh bangunan fisik semata, namun juga oleh aspek psikologis yang dapat mengkondisikannya sebagai tempat belajar siswa dan guru mengajar.

3 . Penerapan Nilai-nilai dan Agama

          Sebagai sebuah organisasi, sekolah adalah lembaga yang tidak hanya memberikan pengajaran namun sangat penting untuk memberikan pendidikan kepada warganya. Para guru yang profesional melakukan untuk mengajar, membimbing, membimbing, melatih, menggerakkan mengarahkan para siswa agar kelak kelak menjadi manusia yang mandiri dan berbudi pekerti luhur. Diharapkan siswa kelak akan menjadi generasi yang akan ikut serta membangun dan memimpin bangsa. Sekolah sebuah organisasi dengan demikian perlu membangun budaya sekolah yang baik, sehat, dan positif.

          Dalam membangun kultur sekolah yang baik, sehat dan positif berdasarkan pengakuan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu diniatkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianutnya. Keyakinan dan nilai-nilai agama akan memberikan Arahan untuk bekerja dan melakukan perbuatan yang diridhoiNya. Hal ini akan memberikan dampak positif warga sekolah agar segala perbuatannya tidak dapat diberikan kepada manusia semata tapi mendapatkan nilai lebih dari mata Tuhan Yang Maha Esa.

Mungkin hanya ini yang bisa saya paparkan kurang dan lebihnya mohon maaf

Wassalamualaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar